Anak-anak mendapat Tekanan Psikis, Media, Badan Perlindungan?

Hal yang baru-baru ini terjadi adalah anak-anak Ahmad Dhani Al dan El menentang pengacara kontroversial Farhat Abbas untuk bertinju secara resmi. Al dan El menentang Ahmad Dhani karena kesal lantaran FA memaki-maki bapaknya di Twitter. Semuah media Indonesia menjadi heboh karena ini, terutama di dunia maya. Siapa yang patut disalahkan atas hal ini?

 

Pertama Media, media menggembar-gemborkan sensasi yang dibuat FA dan emosi yang digembar-gemborkan Al dan El. Jadi disini peran media sebagai kompor yang memenaskan keadaan, keadaannya itu adalah makanan, makanannya itu adalah kontroversi Al, EL dan FA dan aroma masakannya mengoda publik untuk menyantapnya dengan rakus dan meminta nambah jika sudah sedikit!

Namun menurut pengacara Al dan El, Ramdan Alamsyiah setiap orang memiliki hak untuk membela diri. Terlebih kliennya sudah ditekan secara psikis di Twitter.

Setiap orang punya hak membela dirinya. Kenapa KPAI diam ketika Al dan El ditekan secara psikologis oleh Farhat lewat tweet-nya. Itu penganiayaan secara psikis,” tegas Ramdan saat dihubungi wartawan, Sabtu (30/11) (www.merdeka.com).

Ia menilai seharus Komnas Perlindungan Anak seharusnya secara resmi menegur istri Nia Daniaty itu atas kicauannya di Twitter. Bahkan sampai saat ini ia melihat Farhat tetap berkicau yang memberi tekanan psikis.

Tweet FA yang menekan psikis. Foto (hasil capture pribadi)

Tweet FA yang menekan psikis. Foto (hasil capture pribadi)

Tweet FA (II) yang menekan psikis. Foto (hasil capture sendiri)

Tweet FA (II) yang menekan psikis. Foto (hasil capture sendiri)

KPAI: Tinju Boleh Asal Dengan Tujuan Baik

El didampingi pengacaranya, Ramdan Alamsyiah, kiri. Sumber: merdeka.com

El didampingi pengacaranya, Ramdan Alamsyiah, kiri. Sumber: merdeka.com

“Kalau bisa ga usah terjadi pertandingan tinjunya. Kalau mau bertanding lain waktu dengan cara dan tujuan yang lebih baik. Lebih bagus psikologi. Ada pemahaman yang harus diperbaiki terhadap anak-anak,” kata Maria Advianti, sekretaris KPAI kepada wartawan (29/11).

“Nanti kalau satu bonyok, apakah anak Farhat akan nantang lagi? Tantangan ini nantinya ga habis-habis. Kalau mau bertanding, bertanding lah dengan niat yang baik,” lanjut Maria.

Mari kita simak kata-kata maya yang tadi: “Kalau bisa ga usah ada pertandingan tinjunya.” Ya, kata ga usah bukan berarti melarang, tetapi malah menyerankan. Ini kesalahan KPAI. Ga melarang berarti mengizinkan. Jika pertandingan tetap dijalankan ini akan menekan psikis Al dan El lagi lewat serang fisik ditambah media yang menggembar-gemborkan, yang tadinya sudah ditekan oleh FA secara verbal lewat Twitter sekarang bisa lebih ekstrem lagi. KPAI menyarankan, bukan melarang, tidak melarang berarti mengizinkan!

Ini sudah jelas bahwa Farhat Abbas menekan psikis Al (17) dan El (16) yang seharusnya mereka dilindungi karena masih anak-anak dan KPAI tidak melarang! Ini kesalahan yang fatal dimana saat KPAI mengecam pernyataan “bajingan” wagub Ahok tapi tak mengecam ancaman fisik yang akan terkena oleh Al atau El melawan FA!

Usul: “Lebih baik mereka bertiga berdamai, saling mengaku kesalahan masing-masing, media berhenti menjadi kompor, dan orang-orang dewasa yang lainnya berhenti bersikap seperti anak kecil, dan Farhat Abbas diberi sanksi atas tekanan psikis yang telah ia lakukan di sosial media.”

 

Iklan

Tentang muhammadarkhan

Seorang penulis yang suka membaca buku dan meminum teh.
Pos ini dipublikasikan di psikologi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s